Sopyan Kartomi

Sopyan, Merasa tidak punya kesibukan lain selain mengajar, kini mulai belajar menulis dan berharap menjadi penulis sungguhan....

Selengkapnya
Navigasi Web
Guru yang Suka Memaksa
Memaksa VS Mengajak

Guru yang Suka Memaksa

Selama menjadi pelajar terutama di sekolah dasar, saya menemukan beberapa orang guru dianggap suka memaksa. Mereka disiplin, mengharapkan hasil terbaik, dan tulus ikhlas membantu siswa.

Ketika bel masuk berbunyi, sang guru sudah bersiap di depan kelas, “Kalian berbaris! Ibu mau periksa kuku Kalian!” katanya. Anak-anak masuk satu persatu dengan tertib sambil memperlihatkan kukunya. Anak yang kedapatan berkuku panjang, kotor dipukul menggunakan penggaris dan telapak tangan sang guru. Kemudian dipaksa untuk memotong kukunya segera.

Saat memulai pelajaran, sang guru tidak lupa memeriksa PR yang sudah diberikan. “Mana PR nya?” kata pak guru dengan suara tegas dan wajah yang kejam, “Yang belum mengerjakan, coba selesaikan di luar!” perintahnya. Daripada mendapat pukulan, anak yang belum menyelesaikan PR memilih keluar kelas untuk menyelesaikan PR nya.

Sepertinya pola memaksa sang guru menyeramkan. Bila tidak sesuai dengan perintahnya, siswa akan mendapat hukuman. Bahkan berupa hukuman fisik sekalipun.

Apakah pola seperti ini bisa cocok untuk siswa sekarang?

Pada seminar tentang pola asuh anak (Brits Hotel Karawang, 14 Pebruari 2020) penyaji materi Dr. Sandy S mengatakan, “Guru jaman sekarang sedapat mungkin mengedepankan cara mengajak dibandingkan dengan menyuruh” katanya sambil mengisyaratkan dengan kedua tangannya. Menyuruh dengan menunjukkan telunjuk, dan mengajak dengan mengarahkan kedua telapak tangan ke dada.

Bila pendapat ini diterapkan pada kasus di atas, maka saat membariskan anak, sang guru seharusnya mengucapkan kalimat yang sopan, dan mengajak. Bila mendapati siswa berkuku panjang, kotor, mereka diberikan pengertian bahwa kuku yang seperti itu tidak baik, sarang kuman. Kemudian mereka diberi gunting kuku untuk memotongnya. Begitu pun saat menemukan anak yang tidak mengerjakan PR, mereka diberi pemahaman bahwa PR itu membantu memberikan pemahaman terhadap pelajaran yang sudah diberikan.

Pola memaksa lebih dekat kepada memberikan hukuman. Bila pola ini diambil mulailah dengan hukuman yang ringan berupa teguran. Dan teguran ini bersifat adil kepada semua anak yang menujukkan pelanggaran. Tunjukkan seperti apa yang seharusnya dilakukan. Hati-hatilah dampaknya bagi siswa. (QS Al Baqarah): “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman”.

Pola mengajak lebih dekat kepada memberikan penghargaan. Guru dituntut sabar, penuh senyum, dan berusaha memberikan pemahaman yang bisa diterima. (QS Al Baqarah: 159), “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya”.

Sekarang terserah guru. Pola mana yang mau dipakai. Pola memaksa atau pola mengajak?

Mohon maaf, jika saya salah menggunakan dasar ayat Al Quran dalam pola memaksa dan mengajak tersebut!

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

search