Sopyan Kartomi

Sopyan, Merasa tidak punya kesibukan lain selain mengajar, kini mulai belajar menulis dan berharap menjadi penulis sungguhan....

Selengkapnya
Navigasi Web
Kelas Internasional di SDN Jatisari 1

Kelas Internasional di SDN Jatisari 1

Setelah mengajar selama 20 tahun, baru tahun ini saya merasa mengajar di kelas internasional. Yaitu ketika disodori tugas mengajar di kelas 6D dan menerima daftar nama anak-anaknya.

Mengapa demikian?

Karena dari tiga puluh tiga anak di kelas tersebut, tidak ada satu pun yang memiliki nama khas daerah (Sunda, Jawa Barat), misalnya: Asep, Dadang, Yayan, Euis, Entin, Edoh, dan sebagainya). Hampir semuanya “berbau” internasional.

Coba saja simak nama-nama siswa tersebut berikut nama orang tuanya!

Mubaroq Al Fatkhan nama ibunya Esih, Delsen Kho nama ayahnya Junaidi, Pathimatul Muthia nama ibunya Lela, dan seterusnya. Keadaan ini mirip sekali seperti nama-nama pemeran dalam sinetron Dunia Terbalik di RCTI, misalnya: Jenifer nama ayahnya Idoy, Edward nama ayahnya Aceng, atau Deby nama ayahnya Dadang.

Sepertinya ada pergeseran dalam pemberian nama anak. Dari yang tadinya penamaan kedaerahan menjadi keinternasionalan. Sehingga saya merasakan sebagai kelas internasional pada kelas yang saya ajar.

Hal inila yang menjadi keresahan saya.

Situasinya berbeda pada penamaan anak-anak di luar negeri. Orang tua di Jepang tetap memberi nama anaknya dengan nama khas Jepang. Demikian juga di Korea. Di Hongkong, sekalipun pengaruh Inggris sangat kental, mereka tetap menggunakan nama internasional digabung dengan nama khas Chinanya.

Sebenarnya nama daerah atau nasional atau internasional sekalipun tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kesuksesan seseorang. Justru nama daerah mudah ditulis dan mudah pula diucapkan. Nama daerah merupakan kearifan lokal yang perlu dipertahankan. Lihat saja contohnya. Jika Taslim dianggap sebagai nama daerah, Joe Taslim, aktor Indonesia, berhasil melanglang sebagai aktor Holywood. Demikian pula Jacky Chen (Hongkong) sukses luar biasa dengan nama China-nya.

Rasanya harus ada gerakkan meningkatkan kebanggaan daerah dan bangsa kita. Bertindak lokal tetapi berpikir global harus menjadi bagian penting dari perilaku kita di era globalisasi ini. Dalam hal pemberian nama ini janganlah meninggalkan khas daerah atau nusantara. Karena itu menjadi identitas bangsa yang seharusnya melekat pada nama seseorang.

Sebagai usulan, barangkali hal bisa dimulai dari pembuatan kebijakan dengan memberi insentif bagi orang yang memiliki nama daerah. Misalnya dalam pemberian Kartu Indonesia Pintar, mereka yang bernama daerah didahulukan. Nama Cicih didahulukan daripada nama Jenifer. Atau nama Dadan didahulukan dari nama Nicholas, dan sebagainya.

Bukan tidak mungkin, jika gerakan ini tidak dilakukan nama-nama daerah akan hilang diganti dengan nama-nama asing. Nama anak-anak kita menjadi sulit diucapkan dan sulit pula dituliskan.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

search